Staycation – Ancol

Setelah liburan ke Bali waktu Eric masih 2.5 bulan, kali ini kita ga jauh-jauh liburannya ke Ancol aja. Sebenernya trip ke Ancol ini berawal karena Eric yang nafasnya grok-grok terus karena alergi dan ada bakat asthma. Keluarga menyarankan kita bawa Eric pagi-pagi ke pantai biar nafasnya plong. Cuman yah namanya kita berdua (gue and hubs) both are working couples yang M-F kerja dari pagi sampe malem. Untuk sampe Ancol jam 6an kan berarti dari rumah harus lebih pagi lagi, otomatis bangun lebih pagi lagi. Gak sanggup dah.

Jadi kita putuskan untuk nginep aja deh di Mercure-Ancol.

Kita nginep hanya semalem dari Sabtu-Minggu dan dapet kamar Ocean View.

14560178_10157496876470557_1750516124560209874_o14525133_10157496876545557_1979283527468249828_o14500594_10157496876740557_1382101851395022137_o14500787_10157496877165557_4257465144582780338_o14542541_10157496877740557_2146101324602533944_o14543688_10157496878055557_810590620120319553_o14445223_10157496880480557_3208750123936957747_o

Pas minggu pagi, ortu gue dan hubs ikutan semua dateng nemenin Eric jalan-jalan di pantai. Kita rame-rame ke Dermaga (cinta?) yang ada boardwalknya muter ke laut. Di tengah-tengah ada cafe namanya Le Bridge. Lumayan tempatnya bisa duduk-duduk pesen smoothies sambil ngobrol2.

14543658_10157496879250557_7251540866127371873_o

Selesai dari dermaga, kita balik ke hotel terus pulang deh.. bener-bener short getaway banget pokoknya.

Advertisements

Disney Sea Japan

_MG_0454

Gue sebenernya agak doubting untuk nge-post trip ke Disney Sea ini karena hari itu adalah hari terakhir kita di Jepang dan menurut gue meskipun udara sangat nyaman untuk jalan-jalan, tapi cuacanya mayan gelap dan gloomy. Alhasil foto-fotonya pun kurang “ceria” gitu. Tapi gapapa at least gue mau share aja experience gue pas kesana ya!

_MG_0537

Disney Sea itu sebetulnya dinamakan Disney Sea karena lokasi persisnya memang dipinggir laut. Di theme park ini beda dari Disney-disney lainnya yang ada di Orlando, LA dan Paris. Kebetulan kita ke Disney Sea di hari terakhir di Jepang, jadi kita udah pindah hotel di airport karena flight kita besoknya itu pagi banget. Dari airport ada shuttle bus langsung dari terminal airport international dan domestic untuk langsung ke Disney Resort. Jadi ga usah pusing-pusing lagi mikirin gimana cara kesananya. Karena lokasinya memang di pinggir laut perjalanan cukup jauh makan waktu 1 jam-an dari airport. Kalau berangkat dari dalam kota (misalnya Shinjuku, Ginza, Shibuya) bakalan lebih lama lagi perjalanannya.

Kita sampe di Disney Sea sekitar jam 8an, dan itu sudah antri panjang meskipun pintunya belum buka. Untuk pengunjung yang nginep di hotel Disney resort mereka dapat privilage untuk masuk ke Disney Sea (1 jam atau 30 menit gue lupa) lebih dulu dari pengunjung biasa.

_MG_0525

_MG_0523

_MG_0518-2

Ini popcorn rasa Milk Tea, penasaran kan?

_MG_0513 _MG_0436

_MG_0434

Karena hari itu bukan weekend dan sudah bukan anak libur sekolah, theme parknya relative sepi. Jadi kita ga perlu antri lama-lama untuk ridesnya. Kita juga disini jalan-jalan santai, bisa foto-foto secara leluasa ga perlu rebutan spot foto 🙂

_MG_0432

_MG_0442 _MG_0335

Ini bis shuttle khusus untuk pengunjung yang nginep di hotel disney resortnya untuk ke Disney Sea. Lucu yah?

_MG_0355

_MG_0380

_MG_0386

_MG_0479-2 _MG_0485-2

_MG_0507

Dotonbori, Osaka

_MG_0680

Kebetulan hotel/apartment tempat kita tinggal di Osaka itu cuman 5 menit walking distance ke Dotonbori, jadi hampir setiap malam kita pasti lewat Dotonbori on the way ke hotel. Nah, ibaratnya Time Square di NYC, Dotonbori itu Time Squarenya di Osaka. Seperti yang terkenal di Osaka adalah kulinernya, di Dotonbori inilah surganya makanan street food. Segala makanan Jepang ada disitu dan disana restoran dan toko-tokonya tutup lumayan malem. Puas deh pokoknya.

_MG_0300

Untuk Osaka sendiri, mereka memang terkenal atau identik dengan makanan yang di goreng “deep-fried” dan juga dengan okonomiyaki dan takoyakinya. Nah di sepanjang jalan di Dotonbori, banyak banget street foodnya jualan disana. Seru dan rame banget.

_MG_0291 _MG_0272 _MG_0302

Ini dia nih gerobak takoyaki yang antriannya mayan panjang!

_MG_0315

Di hari pertama di Osaka, kita kan pergi jalan-jalan liat Sakura di Sakuranomiya, nah malamnya on the way pulang ke hotel kita cari makan di daerah Dotonbori. Sahabat gue yang ke Jepang sebelumnya pernah bilang di Dotonbori ada satu restoran yakiniku yang sangat recommended namanya Matsusakagyu Yakiniku yang konon katanya rasanya kaya “sapi dari surga”.  Karena penasaran, gue dan hubs coba cari itu restoran, gak lama ketemu kita naik ke lantai 2 ke restoran itu. Taunya semua tablenya sudah fully booked the whole night padahal kita datang kurang dari jam 7 malam. Nah di website gue cek ada cabang restoran satu lagi gak jauh dari situ, lalu gue minta tolong waiternya untuk telfonin ke cabang yang satunya apa masih ada table atau gak. Ternyata merekapun fully booked. OKE DEH! Super kecewa!

Tapi namanya gue juga sotoy dan “ndablek” gue tetep aja tuh jalan ke restoran di cabang lain itu. Pas sampe sana kita tanya ada table gak? ternyata, rejeki anak sholeha ada loh 1 table yang available cuman hanya bisa dipakai sampai jam 9 malam karena sudah ada yang book jam segitu. Pas kita sampe disana itu jam 7.30, oke lah 1.5 jam buat makan. MANTAP!

_MG_0263

Ini dia penampakan “sapi dari surga”. Perfectly marbled dan lumer di mulut. Ga boong! Harga sungguh tidak bisa menipu! Tutup mata saja dan pesan!

Desserts!! wah THIS IS MY WEAK SPOT! Rasanya kalau ngeliat kios-kios dessert begini gue kaya dipanggil gitu untuk beli dan nyobain. Kalau dihitung-hitung lumayan boncos juga dompet untuk jajan-jajan dessert begini selama di Jepang. Hati-hati!
_MG_0678 _MG_0352 _MG_0349

Semua makanannya sangat menggoda sekali!!

_MG_0682 _MG_0681 _MG_0346 _MG_0332 _MG_0329 _MG_0306 _MG_0305

Xoxo

S

Fun Facts About Japan

lets-travel-to-kyoto-japan-with-rodolfo-contreras-9

Selama 11 hari liburan di Jepang, gue dan hubs ngamatin dan nangkep beberapa kebiasaan dan etiket orang jepang disana. Ada yang menarik tapi ada juga yang membingungkan. Di posting ini, gue mau share foundings kita selama disana.

1. TOILET:

Toilet di Jepang itu sangat teramat high-tech, dimana dudukan closet itu ada pemanasnya (kalo pas winter jadi bokong pas duduk itu nyaman dan ga dingin), dan juga untuk cebok semua pakai tombol air dengan water pressure yang bisa di custom sesuai preference kita. Untuk flush, hampir semua toilet pake sensor di dinding, jadi kita letakan telapak tangan kira-kira 10 cm dari sensor, lalu secara otomatis closetnya akan flush dengan sendirinya. TIdak ada kontak tubuh ke trigger flush dengan alasan higienis.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Lucunya, untuk bagian wastafel mencuci tangan, mereka ga / jarang sekali menyediakan tissue/towel atau mesin pengering tangan. Awalnya gue merasa aneh banget, kok bisa begini? Masa iya orang cuci tangan pake sabun terus basah-basahan keluar toilet atau lap pake baju? Ternyata orang jepang itu sudah lazimnya membawa handuk kecil di tas masing-masing. Jadi setelah mereka cuci tangan otomatis mereka lap dengan handuk kecil itu lalu di bungkus plastik.

2. ESCALATOR:

Escalator di Jepang, terutama di stasiun kereta ada banyak sekali. Lebarnya hampir semua untuk 2 orang berjejer. Kalau kamu nanti pakai escalator (turun/naik) di Jepang, tolong diperhatikan karena mereka selalu membedakan antara jalur kiri dan kanan, yang salah satunya untuk berdiri diam (standing side), dan satunya lagi untuk orang yang jalan terus (clear lane). Gue sama hubs yaa karena kita jg santai dan ga ada yang dikejar, selalu berdiri di jalur yang berdiri diam (standing side) ketika pakai escalator. Intinya dalam memakai escalator ada etikanya: jangan menghalangi orang-orang yang terburu-buru dan selalu kasih jalan bagi yang mau jalan naik/turun.

Seinget gue, di 3 kota yang kita kunjungin, aturannya agak beda. Kalau di Tokyo dan Kyoto “standing sidenya” ada di sebelah kiri, sedangkan di Osaka “standing sidenya” ada di sebelah kanan. Alesannya. ga tau tapi bisa bisa baca disini aja ya explanation lebih lanjutnya 🙂 Kalau nanti disana bingung, tinggal ikutin orang-orang aja disan gimana.

Foto di kiri itu Tokyo & Kyoto dan foto di kanan adalah Osaka.

3. CARA MEMBAYAR DI KASIR

Untuk pembayaran di kasir secara tunai (cash), sang penjaga kasir tidak akan menerima uang di tangannya. Instead, mereka menyediakan cash tray kecil di counter untuk pembeli meletakkan uangnya disitu. Setelah uang diletakan lalu sang kasir mengambil uangnya dan menghitung uangnya di depan pembeli untuk make sure yang dikasih jumlahnya benar.

4. TONG SAMPAH

Gue dan hubs, sebagai first-timer di Jepang kita ngerasa kalau susah sekali mencari tempat sampah di “manapun”. Mau di jalanan, stasiun, ataupun area-area publik lainnya. Kalau pun ada, tempat sampahnya itu kaya satu set of different bins based on bahan materialnya karena tiap tong sampah akan di recycle.

japan_recycling_bins-789306

Alesannya gue ga tau secara pasti, tapi gue beranggapan bahwa mereka expect kita untuk carry around our own trash, dan juga karena disana culturenya untuk ga makan/minum sambil jalan jadi secara kebiasaan ga ada alesan untuk ada tempat sampah di banyak tempat. Contohnya, di daerah yang banyak vending machine minuman pasti di sebelahnya persis akan disediakan tempat sampah khusus botol plastik ataupun kaleng. Karena mereka expect kita minum disitu dan akan dibuang di situ juga. Ga kaya kita yang sambil jalan-jalan  bawa minuman botol. Alesan lainnya bisa dibaca disini ya.

Kira-kira 4 poin experience ini yang gue bisa share ke temen-temen untuk yang mau pergi liburan ke Jepang.

Semoga membantu 🙂

Xoxo,

S

Jalan-jalan pakai Kimono di Asakusa

_MG_0133

Hai, jadi salah satu aktifitas yang gue include di itinerary gue waktu di Jepang adalah jalan-jalan sambil foto-foto sambil pake baju Kimono lengkap. Gue sempet baca kalau aktifitas ini paling terkenal dipakai di Kyoto di daerah Gion. Dimana tempat aslinya Geisha yang sebenarnya. Di daerah Gion ini ada banyak toko-toko untuk sewa kimono (biasanya untuk turis) dan rencananya gue mau sewa di salah satu toko itu terus jalan-jalan di sekitar Gion sambil foto-foto. Cuman gue melakukan kesalahan fatal karena underestimate betapa terkenalnya aktifitas ini untuk turis. Dan karena waktu kita kesana adalah musim Sakura, jumlah turis banyak banget dan alhasil gue ga dapet slot untuk sewa kimono di toko-toko itu selama 3 hari gue di Kyoto. Mereka semua fully booked. Sedih banget rasanya!

On the way ke Tokyo dari Osaka, gue pun LINE-an sama temen gue yang orang Jepang yang tinggal di Tokyo. Dia bilang ada satu area di Tokyo yang bisa sewa kimono kaya di Kyoto. Nama daerahnya Asakusa. Disitu juga ada temple dan bangunan-bangunan traditional Jepang untuk gue foto. Knowing that, gue langsung minta tolong cariin toko yang available untuk booking besoknya.

Pagi besoknya, gue bangun tidur dan langsung cek temperature hari itu. Ternyata temperature drop banget ke 4 derajat C dan hujan seharian. Wah langsung males rasanya.. gue malah sempet niat untuk batalin booking aja karena gue ga kebayang dingin dan hujan begitu terus jalan-jalan pake kimono. GA JELAS! Tapi hubs bilang, udah lah kita kesana aja foto, toh effortnya kita untuk bisa dapet slot pake kimono udah WOW banget. Katanya nanti kalau kedinginan ya ga usah lama-lama jalan-jalannya.

Akhirnya gue nurut dan kita langsung cuss ke Asakusa. Disana kita disambut dengan “mba-mba” ramah yang tidak bisa berbahasa inggris. Kayanya, mereka ada slot di tokonya karena orang-orangnya ga ada yang bisa bahasa inggris, jadi turis-turis ga ada yang bisa booking langsung. Anyway, disini harganya jauh lebih mahal dari pada di Kyoto – hampir 2x lipat tapi udah lah ya dari pada ngga sama sekali. Tutup mata aja terus bayar. Nah setelah dipakeanin dan rambut gue disanggul, gue sama hubs langsung keluar jalan-jalan ke arah temple. Aselik itu dingin banget loh!!! GA BOONG.

_MG_0113

_MG_0088

_MG_0128

Setelah kira-kira 2 jam kita jalan-jalan sambil foto-foto, kita langsung balik ke tokonya untuk ganti baju. Meskipun kita bayar untuk sewa 4 jam. Hahaha yang penting udah bisa nyobain pake kimono dan foto-foto, itu udah cukup banget buat gue.

Untuk temen-temen yang pengen sewa kimono juga, jangan lupa booking terlebih dahulu via website atau email. Jangan kaya gue hampir kecolongan ga jadi sewa kimono karena semua sudah fully booked.

Good luck!

Xoxo,

S

Sakuranomiya and Arashiyama

One of the highlights of our trip to Japan was seeing the Sakura blooming before out eyes and enjoying the “Hanami” together. Tempat pertama yang kita datangi ketika sampai di Osaka adalah area Sakuranomiya. Disini ada sungai dan di sepanjang sungai itu kamu bisa jalan-jalan di bawah pohon sakura. Romantis!

_MG_0236_MG_0138 _MG_0207

Di hari ke-4 kita di Jepang kita pindah kota ke Kyoto. Tempat pertama yang kita tuju adalah Arashiyama Bamboo Grove. Disini kita bisa jalan-jalan di antara hutan bambu yang tinggi. Keren banget menurut gue, meskipun kemarin turisnya banyaknya bukan main tapi alhamdulilah masih bisa enjoy dan bisa foto-foto. Warning ya jalan setapak di hutan ini mayan nanjak ya, kalo kata hubs ini kaya cardio exercise incline di angka 3. Lumayan banget olah-raganya 🙂

_MG_0485 _MG_0488 _MG_0514 _MG_0518

Keluar dari Bamboo Grove, kita langsung disambut dengan pemandangan Sakura yang gak kalah kecenya di pinggir sungai.

_MG_0591 _MG_0603 _MG_0600 _MG_0596

Di sekitar sungai ini ada main road yang banyak toko-toko dan restoran. Toko-tokonya jual pernak pernik khas Kyoto dan kebanyakan itu hand-made. Seru banget liatnya, semua rasanya pengen dibeli hahaha!

_MG_0639 _MG_0553 _MG_0638 _MG_0651 _MG_0646

Dua tempat ini adalah tempat favorite gue waktu jalan-jalan ke jepang untuk sight-seeing dan liat bunga sakura. Menurut gue ini tempat cantik banget untuk jalan-jalan sore dan enjoy keindahan bunga sakura yang sedang blooming 🙂

Hope you enjoy the pics!

Xoxo

S

Preparation Jalan-Jalan ke Jepang

FullSizeRender (5)

Jadi setelah kita balik dari Bali dan teman-teman sudah kembali ke negaranya masing-masing. Gue and hubs rencana pergi liburan (honeymoon part II) ke Jepang pas Sakura season di bulan April. Ceritanya gue dulu pas gue masih tinggal di Amrik hampir tiap tahun ke Washington DC buat jalan-jalan di tepi sungai Potomac sambil foto dibawah pohon sakura, dan hubs did the same thing waktu dia masih tinggal di New Zealand.

Nah alangkah senangnya kalau kita berdua menikmati bunga sakura di negara asalnya, yang kebetulan kita berdua belum pernah kesana. Ketika mulai ngerencanain liburannya, kita sempet cek ke beberapa travel agent karena awalnya gue usulin supaya kita pakai tour aja biar gampang dan ga pusing. Lagian, kita berdua kan ga bisa bahasa jepang dan konon di jepang orang2nya ga byk yang bisa bahasa inggris. Dari pada nyasar ga karuan, mending kita ikutan tour!

Tapi setelah banding sana sini dan liat list itinerarynya kok kita ga selera banget ya.. dan lagi gue sempet tanya ke orang travelnya bisa tau ga orang-orang yang ikutan tour ini umurnya kisaran berapa? karna gue jujur agak males kalo tau2 kita dimasukin tour yang isinya orang2 tua semua (no offense).

Setelah banyak pertimbangan, akhirnya kita putuskan untuk jalan sendiri alias beli tiket sendiri, cari hotel sendiri, beli tiket kereta sendiri, beli tiket lain2 sendiri.. pokoke serba sendiri! Sebetulnya gue mayan ngeri sama keputusan ini, tapi beberapa sahabat gue yang udah pergi ke Jepang di awal tahun pada memberikan support dan banyak referensi hasil liburan mereka yang juga jalan sendiri tanpa tour, gue memberanikan diri untuk memulai planning liburan kita di jepang selama 11 hari.

Posting agak panjang karena penuh informasi (text-heavy), kalo masih interested to read silahkan click read more.

Continue reading