Giving Birth

img_2720

I can’t believe Eric is turning 5 months in a few days!! With all honesty, the past 5 months goes by in such a quick pace, that I didn’t realized Eric will soon be starting solids. How exciting!

Before I go on about solids, I wanted to share a post on different events that I had experienced during my first 3 months after giving birth.

First thing first!

Giving birth. After so many prenatal exercise sessions I attend during my pregnancy, in the end I had Eric through a scheduled C-Section due to hypertension at 38 weeks. The doctor declared that it was too risky to deliver Eric normally not able to control my tension. I started my maternity leave on week 37 and stayed home finishing all the baby preparations including getting my hospital bag ready with the essentials.

In my opinion, many mom-to-be tend to over-packed their hospital bags. In my case, I try not to.

My essentials:

  • Toiletries (toothbrush, toothpaste, facial wash + toner, deodorant, shampoo). Try to buy travel size bottles, if not use those empty travel set bottles and fill them with your products.
  • Light make-up (powder, eyebrow pencil & mascara)
  • Panties and nursing bra
  • Socks
  • Pads
  • Cellphone + charger
  • Breast pump set
  • Nursing cover

As you see, I didn’t bring any clothes because I’d prefer using the hospital’s robe instead – it’s easier to nurse as well. Also, usually the hospital will provide you with clean towel everyday.

Eric’s essentials:

  • Diaper bag
  • 3 diapers
  • 2 sets of new born baby clothes – preferably with long sleeves front opening (zipper/buttons)
  • Beanie hat
  • A pair of hand and feet cover
  • Baby blanket
  • Nursing cover
  • Stroller (Keep this in the car. Use this when it’s time to leave the hospital)

Most for Eric’s necessities were all provided in the hospital.

So my advice is to check with the hospital on what items provided there to avoid over-packing.

I stayed in the hospital for 4 days which covers the entire C-Section surgery and recovery. I can’t really say much other than it was such an unbelievable experience for me and hubs. This little peanut is finally out from my body, breathing, moving, crying..

And this is where the real adventure starts…

Xoxo

S

Pregnancy Journey

Hai semuanya!

Gue mau sedikit sharing tentang pregnancy journey gue di post kali ini. Enjoy!

IMG_0225

 

Trimester 1

Sejak mulai hamil, setiap hari rasanya capek luar biasa. Dari semenjak trimester pertama sampai trimerster ketiga (sekarang), rasa capek itu ga pernah hilang total. Selama trimester 1 itu berat banget. Gue ngerasain extreme fatigue yang teramat sangat dimana badan gue cepet banget capeknya. Naik tangga pun di rumah (kamar gue di lantai 2) aja setengah mati. Meskipun perut masih relatif kecil, cuman badan itu rasanya berat banget mau ngapa2in. Weekend pun gue habiskan untuk tidur seharian di rumah.

Di antara gue dan hubs, gue itu bisa dikategorikan sebagai “si kaki panjang” alias seneng banget jalan-jalan keluar rumah. Sedangkan hubs lebih seneng stay di rumah leyeh-leyeh santai nonton tv, baca buku dan main game. Jadi perubahan drastis dari gue yang tadinya selalu punya acara di weekend dan sekarang di rumah terus di embrace dengan senang hati oleh hubs. But only to a point dimana dia sendiri pun sampe bosen di rumah. Kasian.

Alhamdulilah, di 3 bulan pertama ini gue sama sekali ga mual. Makan pun lancar, malah laperan terus. Jadi asupan ke badan tidak ada masalah sama sekali hanya jenis makanannya aja yang mulai di-adjust agar menu makanan yang dimakan lebih sehat.

 

Trimester 2

Masuk trimester 2 persis di bulan ke-4 itu masa jaya-jayanya karena gue ngerasa udah back to normal. Dengan perut yang makin nongol, gue tetap bisa beraktifitas seperti biasa. Weekend pun lebih menyenangkan karena sudah lebih bisa jalan-jalan. Di bulan ke-4 ini pun bokap nyokap dan mertua ngadain acara pengajian untuk si Baby A agar selalu sehat sampai pada saat lahiran.

IMG_9240

Masuk bulan ke – 4 sudah bisa brunch cantik

IMG_9325

Masih di bulan ke-4 ke kawinan dengan kaki yang udah lumayan bengkak

FullSizeRender (3)

Bulan ke – 5 masih seru ke kawinan

Di bulan ke-6 gue udah mulai kepikiran untuk mulai beli-beli barang keperluan baby. Karna masih newbie dan awam, gue mulai dengan hal-hal yang sifatnya dekorasi dulu dengan destinasi pertama tentunya ke IKEA.

IMG_0257

Sebenernya pas kesini ga tau mau beli apa, cuman setelah muter-muter di area baby, akhirnya gue ambil-ambil aja yang menurut gue make sense untuk dibeli. Yang akhirnya gue beli adalah keperluan tempat tidur bayi: matras, bantal, selimut, sprei, handuk gue beli di IKEA.

 

Trimester 3

Masuk trimester ke – 3 stamina mulai menurun lagi karena kombinasi berat badan yang makin berat dan kaki yang sudah membengkak itu sungguh tidak main-main. Saat ini gue mulai harus beli beberapa sepatu dan sandal dengan size lebih besar karena semua sepatu yang gue punya udah terlalu sempit untuk dipake.

IMG_0386

Valentine’s Day Brunch 2016 di bulan ke -7

Sejak masuk bulan ke – 8 gue sudah ngurangin banget aktifitas gue sehari-hari. Meskipun sebenernya minggu-minggu terakhir inilah masa-masa crucial untuk persiapan si baby. On weekdays aktifitas utama gue cuman ke kantor terus pulang  ke rumah (M-F), lalu hari sabtu pagi senam hamil. Hari minggu biasanya cuman nyicil beberes kamar nursery ataupun kalau keluar rumah itu berhubungan dengan keperluan si baby.

Sekarang gue udah 35 minggu 3 hari dan sebentar lagi masuk ke 36 minggu alias 9 bulan. Gue rencana ambil cuti di minggu ke – 37. Ada yang bilang gue gila karena belum cuti-cuti, tapi ada juga yang bilang gue kecepetan cutinya. Saran gue untuk yang ngalamin hal ini, kapanpun lo mau mulai cuti, hanya lo yang tau kondisi badan lo sanggupnya sampe kapan.

Dengan segala keterbatasan gue sekarang pun, gue di kantor ga ada masalah karena punya temen-temen kantor yang sangat pengertian dan supportive. Tentunya work-load gue di kantor sudah menurun dan gue udah ga se-gesit dulu, tapi gue beruntung punya temen-temen kantor yang masih bisa menghargai kontribusi kerjaan gue.

Xoxo

S

Long time coming

It’s been 4 months!

Well it’s quite easy to fall into a long hiatus without even realizing it. I’m still here, alive. Funny that my last post on this blog is me trying to sell my wedding shoes. I completely forgot about it, and the pair is still sitting nicely on my “nice shoes closet” in my room.

Anyways, let’s do a quick update. If you follow my IG @sariasoy , you probably already knew that my hubs and I are expecting our first baby. I’m currently on my second trimester and the past 4 months has been a roller coaster of ups and downs dealing with the pregnancy symptoms. I’m at week 21 and I feel much better. We are both very excited for the baby.

Had my birthday this past weekend with minimal celebration because I was (still am) recovering from a bad cold.

And just like that, New Year is right around the corner. 2016 people! Gosh where did 2015 go? Seriously.

2016 will be such a big change for me and hubs. We are so excited (and scared) to bring our little peanut to the world. I’m starting my nesting mode, re-organizing the house and planning for the nursery room. Making lists of the things to prepare and buy for the first year a.k.a stroller, changing table, diapers, sterilizer, etc.

I’m sure this will be my last post in 2015, so I’d just like to wish you all Happy New Year 2016 with prosperous life.

 

Peace out!

 

Wedding Shoes for Sale

Teman-teman capeng, inget kan posting aku disini mengenai wedding shoes? Nah setelah berfikir cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk melepaskan kepemilikan sepatu ini.

Sepatu putih ini aku pakai hanya 2 jam saja untuk upacara akad di gedung dengan lantai ber-carpet. Mereknya Badgley Mischka dengan size 7 US, atau kira-kira 37 atau 37.5 EU. Modelnya sling-back dengan tinggi heelnya hanya 5.5 cm. Semua masih lengkap dengan dust-bag, box dan juga spare mote dan heel plastik bagian bawah.

Harga retail price $245 USD bisa dilihat disini. Tentunya aku akan jual dibawah harga retail🙂

Silahkan kalau ada yang berminat langsung email ya ke 3soeponos [at] gmail [dot] com.

Xoxo,

S

Venue Pernikahan di Jakarta

Sebenernya gue mau post ini dari minggu lalu. Tapi apa daya jika sakit melanda, weekend pun ga bisa ngapa-ngapain. Masih dengan edisi kawinan! Kali ini gue mau ngebahas tentang pemilihan venue. Aktifitas pemilihan venue biasanya adalah step pertama untuk persiapan pernikahan. Tapi sebelum bisa “venue shopping” idealnya kita sudah mempunyai suatu angka budget, tema dan juga jumlah tamu yang akan diundang (kira-kira aja). Kalau 3 poin ini sudah ada infonya, akan jauh lebih mudah untuk pemilihan venue karna bisa langsung 3 poin itu akan menjadi filter pengerucut pilihan. Untuk pernikahan kita sendiri, gue memang mau venue semi-outdoor. Jadi untuk post ini gue akan share venue-venue apa saja yang gue survey saat pemilihan venue pernikahan gue dengan opini pribadi gue.

1. Pondok Indah Lestari Ini adalah venue pilihan pertama kita. Awalnya kita mau langsung book DP tanggal karena lokasinya deket sama rumah gue. Tapi beberapa minggu ke-depan kita sempet diundang ke pernikahan yang di venue ini dan banyak hal yang lumayan bikin kita ilfil.

Parkiran. Waktu ngeliat betapa repotnya parkiran di luar jalanan untuk tamu. Parkiran dalem cukup terbatas sehingga biasanya dipakai untuk keluarga dan panitia. Parkiran alternative ada di gedung BCA di seberang venue tapi gue ngerasa di bagian luar agak gelap untuk tamu jalan kaki dari area parkiran di jalanan ke dalam venue.

Hujan. Sebetulnya waktu kita kesana gak hujan, tapi hujannya siang-sore. Cuman ternyata efek hujan di siang hari itu bikin tanah dan rumput becek banget. Dan bayangin aja tamu yang jalan-jalan di rumput yang basah dan jeblos terus naik ke lantai lagi. Berantakan banget dan lantai juga jadi kotor. Horror!

2. Zerah Senayan Pilihan ke-dua adalah Zerah Senayan. Lokasinya ada di sebrang Plaza Senayan – cukup strategis dan parkiran cukup luas. Kenapa kita ga pilih ini? Full Outdoor. Venue ini bener-bener full outdoor. Jadi itu terserah kita apakah kita mau bikin atep sendiri (dari pihak dekor) atau gimana. Tapi yang jelas itu bener-bener outdoor. Horrornya, kita tanya kalau nanti hujan gimana? Ada Plan B, yaitu memindahkan tamu ke gedung senayan golfnya di dalam restaurantnya yang besar. Cuman permasalahannya yang dipindahin hanya tamunya, makanannya ngga. Aneh ya? Karena Plan B ini sifatnya hanya temporary dengan anggapan hujan hanya sesaat dan nanti setelah hujan reda tamu bisa kembali ke area outdoor.

3. Hotel Sultan Nah Hotel Sultan (dulu Hotel Hilton), punya area besar di tengah propertynya di dekat kolam renang. Disini bisa dipakai untuk wedding outdoor. Alesan kenapa ga pilih venue ini: Panas. Lokasi outdoornya bener-bener di tengah2 property dikelilingi gedung hotelnya, udara agak pengap dan panas karena ga ada angin ngalir. Jadinya ga enak banget hawanya apalagi kalo tamunya banyak. Sama kaya Zerah Senayan, area ini full outdoor. Jadi pihak dekor nantinya yang akan pasang atap sesuai request kita. Meskipun kalau hujan pun gampang ke area indoornya (hotel) dibandingin sama Zerah Senayan yang jaraknya cukup jauh dari area outdoor ke gedung Senayan Golfnya. Gelap. Ini personal preference banget ya, tapi menurut gue areanya cukup gelap even ketika lampunya sudah dinyalain.

4. Hotel Dharmawangsa Menurut gue venue ini keren banget, cuman harganya memang cukup WOW. Disayangkan ketika kita kesana untuk survey mereka lagi me-renovasi ball-room dan bagian outdoornya. Sehingga mereka ga bisa confirm kapan venuenya akan selesai untuk renovasi. Menurut gue Hotel Dharmawangsa agak over-rated. Memang keren tapi tanpa heavy dekor, venuenya sih biasa aja. Kalo ga salah mereka provide valet service which is beneficial untuk tamu ga perlu repot cari parkir. Cuman malesnya nanti pas mau pulang, antri ambil mobil valetnya juga WOW. Entah lah mungkin kita gak jodoh.

5. Financial Hall Nah ini adalah tempat venue yang akhirnya kita pilih untuk menjadi tempat pernikahan kita. Lokasinya di-dalam gedung Graha CIMB Niaga di Jalan Sudirman. Jadi sangat Strategis. Parkiran luas karena dapat kapasitas parkir gedung Graha CIMB Niaga. Semi-Outdoor, seperti yang kita mau. 1/3 area ballroom tertutup, 2/3 area outdoor dengan atap tenda yang memang sudah include di paket sewa venuenya. Jadi venue ini memang cocok banget sama apa yang kita cari.

Maaf ya disini ga posting foto-foto apapun untuk mengilustrasikan venue masing-masing. Tapi gue yakin kok temen-temen kan smart reader jadi bisa langsung google image atau langsung datang ke tempatnya.  Again, kalau ada yang pengen nanya-nanya silahkan aja ya email langsung ke saya.

Adios,

S

Balada Drama dengan Vendor Kawinan

Dari awal gue mulai nulis blog mengenai preparation perkawinan gue itu bukan hanya semata-mata pengen nulis, tapi gue pengen banget apa yang gue share bisa membantu temen-temen capeng yang sedang melakukan persiapan pernikahan juga. Kenapa? Karena waktu pas gue mulai persiapan kawinan, sahabat sejati gue adalah internet dan google. Gue bisa berjam-jam berkutik di laptop hanya untuk browsing dan baca artikel dan review dari website, forum dan blog-blog untuk banyak hal related to the wedding terutama pemilihan vendor pernikahan. Sejak sebulan yang lalu, sudah banyak capeng yang email gue nanya-nanya mengenai vendor kawinan gue, dan gue sih seneng banget kalau bisa bantu dengan informasi yang gue punya.

Disini gue mau share 2 vendor di resepsi gue yang menurut gue dan hubs hasilnya mengecewakan. Gue ga berniat untuk menjelek-jelekkan, tapi hanya ingin sharing pengalaman gue seadanya (AS IS) agar temen-temen bisa lebih waspada dan aware akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan vendor. Gue ga akan menyebutkan nama vendor disini, tapi kalau temen-temen ada yang ingin tau lebih detail silahkan japri ke gue via email ya. Semoga pengalaman gue ini bisa jadi contoh pembelajaran dalam pemilihan vendor untuk pernikahan temen-temen.

1. Vendor pertama adalah vendor photobooth. Kita ketemu vendor ini di pameran wedding di JCC sekitar 5-6 bulan sebelum hari H. Disana kita cek beberapa vendor untuk jasa photobooth dimana gue dan hubs sepakat untuk pakai jasa photobooth vendor ini. Kita langsung bayar DP di tempat. Lepas dari JCC kita mulai konsultasi dengan orang salesnya (orang yang sama ketika kita ketemu di JCC dan bayar DP) untuk masalah backdrop via whatsapp. Kita sendiri memang ga mau pake dekor bunga-bunga yang biasanya diprovide oleh vendor dekor untuk background photobooth. Inspirasinya adalah dari gambar seperti dibawah ini:

photobooth-backdrop

Idealnya backdrop ini dibuat secara manual di atas papan kayu yang dicat dengan “chalk-paint” berwarna hitam, dan semua tulisan ditulis dengan kapur putih. Tapi untuk efesiensi effort dan biaya, si vendor pun menawarkan jasa mereka untuk produce sebuah print backdrop sebesar 3×3 meter dengan biaya tambahan. Design semua yang buat gue dan hubs dari pemilihan font, peletakan nama dan segala tetek bengeknya. Sekitar 3-4 bulan sebelum hari H, hubs mengirimkan soft copy filenya ke pihak vendor untuk di print.

IMG_7645

Setelah itu mereka ngabarin bahwa backdrop sudah selesai sekitar beberapa minggu sebelum hari H, dan karena keterbatasan mereka dengan storage dan transportasi, mereka minta supaya hubs ambil ke tempat printingnya di daerah Slipi. Ya sekarang pikir aja deh, sebagai Capeng yang punya hajat 2 minggu sebelum hari H sibuknya kaya apa? Mana sempet bisa ambil begituan. Eniway, akhirnya setelah nego, mereka menyanggupi agar si backdrop mereka bawa (entah gimana caranya) langsung ke lokasi resepsi di hari H.

Di hari H Jam 6.30 pm gue turun dari tempat rias ke bawah tempat resepsi, dan sungguh gue kaget karena hasilnya sungguh mengecewakan. Ini sample salah satu foto yang di hari H.

FullSizeRender (12)

  • Backdrop yang mereka print, dilipat dong.. jadi pas dipasang keliahatan seluruh lipatan-lipatan. Waktu hubs negur mereka on the spot (crew yang datang untuk acara resepsi gue), mereka hanya menyalahkan orang printnya yang datang dengan kondisi backdrop sudah terlipat. Mereka ga bertanggung jawab.
  • Pihak vendor photobooth sudah tau bahwa ukuran backdrop adalah 3x3m tapi kalo temen-temen perhatiin, gantungan atasnya pun lebih pendek dari 3 meter sehingga banyak sisa backdrop yang jatoh ke lantai keinjek2.

The next day, hubs complain keras ke orang salesnya. Tapi apa daya? Mereka hanya bisa minta maaf. Mereka menawarkan kompensasi dengan membuat sebuah gambar karikatur tapi gue sama hubs udah males aja deal sama mereka. Menurut gue, kalau mereka menawarkan dan menyanggupi additional service berbayar ke client, itu harus end-to-end, karena pemilihan perusahaan printingnya pun mereka yang pilih. Tapi to be fair, hasil fotonya sendiri secara independent memang bagus. Gue dikirimin semua soft copy foto yang mereka foto di hari itu dan semua bagus-bagus. Cuman ya backdropnya bikin ilfil banget dan emosi jadi gue simpen aja tuh CD hasil foto-foto.

2. Vendor kedua dan yang terakhir, adalah vendor dekor gue. Sama halnya kaya vendor photobooth diatas, kita ketemu vendor ini lewat pameran wedding di JCC. Gue warning dulu nih… ceritanya agak panjang dan penuh dengan emosi (karena nulis posting ini kan harus inget-inget kejadian yang ga enak)… jadi kalo ga minat bacanya, cukup sampai disini aja.. tapi kalau kamu mau baca lebih lanjut silahkan click “Continue Reading”

Continue reading